Khusyuklah dalam 17 rakaat sholat wajib yang kita tunaikan setiap hari. Jangan hanya berdiri, rukuk, dan sujud sebagai gerakan tubuh, tetapi hadirkan seluruh hati di hadapan Allah. Sholat bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan, melainkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mengingat siapa tempat kita bergantung.
Khusyuk tidak selalu berarti air mata harus mengalir atau hati tidak pernah terganggu oleh pikiran lain. Khusyuk adalah terus berusaha menghadirkan hati, memahami bacaan, menyadari bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah, dan berusaha memperbaiki kualitas sholat dari waktu ke waktu.
Ust. Aris Alwi, motivator Gedor Pintu Langit dan Ketua Yayasan Malomo Untuk Semua, mengingatkan bahwa jangan sampai kita hanya menghitung berapa rakaat yang telah selesai, tetapi lupa merasakan kedekatan dengan Allah di dalamnya. Sholat seharusnya menjadi kebutuhan hati, tempat kita kembali ketika dunia terasa berat dan tempat kita menguatkan diri ketika menghadapi berbagai ujian.
Jagalah sholat wajib dengan sungguh-sungguh dan tepat waktu sesuai kemampuan untuk terus memperbaikinya. Setelah itu, lengkapi dengan sholat sunnah sebagai bentuk cinta dan upaya mendekatkan diri kepada Allah. Jangan menjadikan ibadah sunnah sebagai pengganti kewajiban, tetapi jadikan ia sebagai pelengkap perjalanan menuju ketaatan.
Semoga setiap sholat yang kita tunaikan menjadi cahaya yang menerangi langkah, menenangkan hati, menguatkan jiwa, dan menumbuhkan kesabaran. Semoga kita tidak hanya rajin mendatangi sajadah, tetapi juga membawa nilai-nilai sholat dalam kehidupan: jujur, sabar, rendah hati, menjaga lisan, dan senantiasa mengingat Allah.
Teruslah belajar menghadirkan hati dalam sholat. Sebab ketika sholat mulai menjadi kebutuhan, kita akan merasakan bahwa sajadah bukan sekadar tempat bersujud, tetapi tempat hati menemukan ketenangan dan kekuatan untuk terus istiqomah bersama Allah.





















