Sudah Ikhtiar Langit, Sudah Ikhtiar Bumi, Hasilnya Kita Serahkan pada Allah

Sudah Ikhtiar Langit, Sudah Ikhtiar Bumi, Hasilnya Kita Serahkan pada Allah

Dalam menjalani kehidupan, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha (ikhtiar) dan tawakal kepada Allah. Ikhtiar terbagi menjadi dua, yakni ikhtiar langit yang berupa doa dan ibadah, serta ikhtiar bumi yang berupa usaha lahiriah dan kerja keras. Keduanya harus berjalan beriringan agar seseorang mendapatkan hasil terbaik dalam kehidupannya. 

Ikhtiar Langit : Menghubungkan Diri dengan Allah

Ikhtiar langit mencakup segala bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti doa, shalat, dzikir, dan sedekah. Allah berfirman dalam Al-Qur'an : "Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’" (QS. Ghafir: 60)
Berdoa adalah wujud pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kuasa Allah. Nabi Muhammad ï·º juga menegaskan pentingnya doa sebagai senjata bagi seorang mukmin : "Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit serta bumi." (HR. Al-Hakim). Selain doa, bentuk ikhtiar langit lainnya adalah dengan melaksanakan shalat tahajud. Rasulullah ï·º bersabda : "Hendaklah kalian mengerjakan shalat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, pendekat kepada Rabb kalian, penebus kesalahan, penghapus dosa, serta penolak penyakit dari tubuh." (HR. Tirmidzi)

Ikhtiar Bumi : Bekerja dan Berusaha dengan Sungguh-sungguh

Selain ikhtiar langit, Islam juga mendorong umatnya untuk berusaha secara maksimal dalam aspek duniawi. Rasulullah ï·º bersabda : "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa tawakal harus disertai usaha. Burung tidak hanya berdiam diri di sarangnya menunggu rezeki datang, tetapi ia keluar mencari makanan. Begitu pula manusia, harus bekerja keras dan memanfaatkan potensi yang telah Allah berikan.
Contoh nyata dari para sahabat dalam berikhtiar bumi adalah kisah Abdul Rahman bin Auf, seorang sahabat Nabi yang sangat kaya namun tetap berusaha dengan keras. Ketika hijrah ke Madinah, ia tidak meminta-minta meskipun dalam keadaan miskin. Sebaliknya, ia berkata, "Tunjukkan padaku di mana pasar?" Ia kemudian berdagang hingga menjadi seorang pengusaha sukses.
Menyerahkan Hasil kepada Allah
Setelah melakukan ikhtiar langit dan ikhtiar bumi, langkah terakhir adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima apa pun hasil yang Allah tetapkan dengan penuh keimanan dan kesabaran.
Allah berfirman : "Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)." (QS. At-Talaq: 3)
Rasulullah ï·º juga mengajarkan kepada sahabatnya agar tetap berusaha sambil bertawakal. Dalam sebuah hadis, seorang sahabat bertanya : "Ya Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku lalu bertawakal, atau aku melepaskannya lalu bertawakal?"
Rasulullah ï·º menjawab : "Ikatlah untamu, lalu bertawakallah." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Kita tetap berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Kesimpulan
Dalam menjalani kehidupan, seorang muslim harus melakukan ikhtiar langit dengan beribadah dan berdoa, serta ikhtiar bumi dengan bekerja dan berusaha. Setelah itu, hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah dengan penuh keimanan dan tawakal. Dengan demikian, hati akan lebih tenang dan ridha terhadap segala ketetapan-Nya. Sebab, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.






Load comments

0 Comments